Bintuni Papua, suarakpkcyber.com — Gagasan penyelenggaraan lomba tanam komoditas pangan lokal seperti ubi jalar, singkong, keladi, hingga jagung mulai mendapat sorotan sebagai solusi nyata dalam memperkuat ketahanan pangan daerah.
Mengusung semangat “Sediakan Payung Sebelum Hujan”, ide ini muncul di tengah dinamika geopolitik global yang melibatkan negara-negara seperti Iran, Israel, dan Amerika Serikat. Kondisi tersebut dinilai berpotensi memengaruhi stabilitas pangan, termasuk di Indonesia.
Pada era kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto bersama Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, pemerintah melalui Kementerian Pertanian Republik Indonesia dan Kementerian Koperasi dan UKM Republik Indonesia dinilai perlu menghadirkan program yang lebih konkret dan berorientasi jangka panjang.
Salah satu langkah yang dinilai relevan adalah mengoptimalkan lahan kosong di berbagai daerah, termasuk di Kabupaten Teluk Bintuni, melalui pendekatan berbasis kompetisi yang melibatkan masyarakat secara luas.
Pemilik media online Mediaprorakyat.com, Haiser Situmorang, menegaskan bahwa lomba tanam bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan strategi nyata untuk memperkuat ketahanan pangan dari tingkat lokal.
“Daripada anggaran dihabiskan untuk kegiatan yang dampaknya jangka pendek, seperti pertandingan olahraga atau lomba hiburan, lebih baik diarahkan pada program yang manfaatnya bisa dirasakan dalam jangka panjang,” ujarnya, Selasa (31/3/2026).
Menurutnya, komoditas seperti singkong, ubi jalar, dan keladi memiliki keunggulan karena tahan terhadap perubahan cuaca, mudah dibudidayakan, serta dapat menjadi alternatif sumber karbohidrat pengganti beras.
Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya perencanaan yang matang agar program ini berjalan efektif, mulai dari penentuan kategori lomba, pelibatan peserta dari berbagai kalangan (petani, pelajar, hingga kelompok masyarakat), hingga dukungan pemerintah berupa penyediaan bibit, pelatihan, dan pendampingan teknis.
Tak kalah penting, aspek keberlanjutan juga menjadi kunci. Hasil panen peserta harus memiliki akses pasar yang jelas, baik melalui kerja sama dengan pelaku UMKM maupun program pangan daerah, sehingga manfaatnya tidak berhenti pada perlombaan semata.
Gagasan ini sekaligus menghidupkan kembali semangat kearifan lokal melalui sistem lumbung pangan yang dahulu menjadi andalan masyarakat dalam menghadapi masa sulit. Dengan pendekatan modern dan dukungan kebijakan yang tepat, konsep tersebut dinilai tetap relevan untuk diterapkan saat ini.
Jika direalisasikan secara serius, program ini berpotensi menjadi gerakan kolektif yang tidak hanya memperkuat ketahanan pangan daerah, tetapi juga mendorong kemandirian masyarakat dalam menghadapi ketidakpastian global.
“Anggaran yang ada harus dimanfaatkan dengan tepat. Gunakan payung sebelum hujan. Kalau tidak ada makanan, bagaimana kita bisa bertahan jika terjadi sesuatu yang tidak diharapkan? Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi ke depan, semoga dunia tetap baik-baik saja,” tutup Haiser.
Haiser Situmorang menambahkan, berdasarkan pemberitaan di berbagai media online, televisi, dan media sosial, sejumlah negara mulai mengambil langkah penghematan energi di tengah meningkatnya ketidakpastian global akibat konflik geopolitik, khususnya ketegangan antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran.
Situasi tersebut tidak hanya memicu instabilitas politik, tetapi juga berdampak langsung pada rantai pasok energi dunia. Eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah berpotensi mengganggu jalur perdagangan dan distribusi energi global yang selama ini menjadi tulang punggung pasokan minyak dunia.
Kondisi ini memicu kekhawatiran akan terjadinya krisis energi, seiring menurunnya produksi dan terganggunya distribusi di sejumlah wilayah.
“Jika ketahanan pangan kita kuat, masyarakat Indonesia tidak akan terlalu kesulitan meskipun terjadi kelangkaan minyak. Namun kita tetap berharap kondisi seperti itu tidak terjadi,” pungkasnya. (Dedi)


Post A Comment:
0 comments: